Blog

Last update on .


Menjelajah Pulau Penjajah

Bingung ingin kemana pada akhir pekan? Menjadi weekender di Jakarta ternyata tidak harus selalu nge-mall. Ketiga pulau yang kami rekomendasi berikut ini dapat menjadi pilihan wisata sejarah dan bahari yang tidak kalah serunya.

Didampingi oleh arkeolog senior Candrian Attahiyat, kami pun mencoba menjadi weekender di Jakarta dengan mengikuti perjalanan tur yang dipandu oleh Komunitas Historia Indonesia (KHI). Tujuan kami hari itu adalah Pulau Edam, Pulau Kelor, dan Pulau Onrust. Selain Candrian, pendiri komunitas sejarah KHI Asep Kambali turut dalam rombongan.

Sejak sinar matahari masih menyembul malu-malu dari peraduan, rombongan kami hari itu sudah berkumpul di dermaga Muara Kamal. Aneka sampan beraneka warna serta keriuhan pelelangan ikan menjadi pemandangan yang menyenangkan pagi itu.

Perjalanan menuju Edam dari Muara Kamal sendiri ditempuh selama dua jam dengan riak ombak tenang. Sesampainya di Edam atau dikenal juga sebagai Pulau Damar Besar, Candrian segera menjelaskan tentang asal usul pulau yang disebut juga Pulau Monyet itu.

“Di pulau ini konon penemu benua Australia dan Selandia Baru, James Cook dimakamkan. Tapi masih perlu dicari tahu kebenarannya”, buka Candrian.

Kami pun bergegas menuju mercusuar tua yang terletak di tengah-tengah Pulau Edam. Mercusuar setinggi 65 meter yang dibangun pada tahun 1879 ini disebut juga Vast Licht. Adalah Raja ZM Willem II yang memerintahkan koloninya di Batavia untuk membangun mercusuar ini demi mengawasi perdagangan yang terjadi di teluk Jakarta.

“Alas kakinya dilepas kalau mau naik ke atas mercusuar, karena alas kaki kita membawa garam dari laut yang lama-lama bisa mengikis besi mercusuar menjadi karat”, ujar Asep mengingatkan.

Dari atas mercusuar, kita pun dapat melihat langsung pemandangan cantik laut biru yang mengelilingi Pulau Edam. Untuk mencapai puncak mercusuar, ada 270 anak tangga yang harus kita lalui. Itu setara dengan 16 lantai sebuah gedung. Kini mercusuar ini berfungsi sebagai navigasi kapal-kapal yang akan berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok.

Banyak diantara kami yang terpesona dengan situasi sekitar Pulau Edam yang lautnya biru dan kadang berwarna hijau tosca. Makam Ratu Banten Syarifa Fatimah yang terletak di belakang mercusuar, terbilang cukup terawat karena berlantai keramik dan ada kuncen yang menjaganya. 

“Ratu Syarifah Fatimah sendiri adalah ratu yang pernah berkuasa di Kesultanan Banten”, jelas Candrian. “Sayangnya dia termasuk ratu yang dibenci rakyatnya karena pro pada Belanda”, tambah Candrian lagi. Pasca Belanda kalah perang di Banten, Ratu Syarifah Fatimah pun harus menjalani pengasingan di Pulau Edam hingga ajal menjemput.

Selain mercusuar dan kompleks makam tua, Edam yang luasnya 36 heltare juga punya bunker dan reruntuhan bangunan yang kondisinya setengah hancur. “Bangunan ini dahulu merupakan lokasi para prajurit TNI berlatih perang”, kata Candrian menjelaskan rasa penasaran kami.

Waktu yang terus bergerak membuat kami pun harus meninggalkan Edam dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Kelor.

Dari kejauhan, Kelor dapat dikenali dari benteng ikoniknya yang berbentuk bulat dan berdiameter 23 meter. Konon model benteng ini meniru benteng Mortello di Corsica, Perancis. Meskipun luasnya hanya 2 hektare, Kelor pernah menjadi basis pertahanan VOC kala diserang Portugis pada abad ke-17.

“Dahulu Belanda menjadikan pulau ini sebagai kuburan untuk kaum pribumi yang tinggal di pulau sekitar, termasuk kuburan para tahanan politik yang dihukum mati”, tambah Candrian. “Sehingga pulau ini disebut juga pulau kuburan”, tambah Candrian.

Saat tengah hari, perjalanan kami berlanjut ke Onrust. Pulau yang ratusan tahun silam pernah digunakan VOC sebagai bengkel kapal sebelum merapat ke Batavia. Kesibukan galangan kapal di sini membuat pulau ini juga disebut Onrust atau tidak pernah istirahat dalam bahasa Belanda.

Sejarah Onrust terbilang berlapis-lapis, meskipun kini kondisinya cukup memprihatinkan. Benteng megah yang pernah berdiri di tahun 1656 kini tidak terlihat lagi jejaknya. Kincir angin yang sempat digunakan untuk proses penggergajian kayu pun sudah lenyap dan meninggalkan pondasi tanpa puing.

Pada tahun 1911, Onrust pernah digunakan sebagai karantina haji. Selama puluhan tahun tempat ini pernah “melatih” para haji untuk terbiasa dengan kondisi ombak laut yang ganas karena saat itu untuk menunaikan ibadah di Tanah Suci masih menggunakan kapal laut yang ditempuh selama berbulan-bulan.

Tempat ini juga pernah menjadi lokasi menahan para pemberontak “Kapal Tujuh” atau Kapal HNMLS Zeven Provincien. Hingga kini kuburan para pemberontak kapal yang sebagian besar adalah warga Indonesia dapat dilihat di sisi utara Onrust.

Di masa peralihan politik era 60-an, bekas bangunan yang pernah menjadi asrama karantina haji dan rumah sakit pun akhirnya harus “menyerah” ke tangan-tangan jahil yang menjarahnya secara sporadis.

“Saat itu memang seperti ada izin dari penguasa untuk menjarah seisi bangunan di pulau ini karena kan dianggap tidak bertuan”, jelas Candrian sambil mengajak berkeliling pulau.

Pulau ini juga memiliki Museum Pulau Onrust. Beberapa dokumentasi foto maupun maket tentang Onrust di masa silam dapat dilihat secara jelas di sini agar para pengunjung dapat melihat gambaran utuh pulau bersejarah ini.*** 

 

Source: Klik disini!

Comments (0)

No comments yet.

You must login to give a comment.